ICOC - Indonesia Now: 80 Years of Independence

Melbourne, 7-10 Juni 2025 — Pada gelaran Indonesia Council Open Conference (ICOC) 2025 di The University of Melbourne, Unit Kajian Gender dan Seksualitas FISIP UI menghadirkan panel khusus bertajuk “Thinking Through Global Health Initiatives”. Diskusi ini menyoroti kompleksitas penanganan stunting di Indonesia, mulai dari kritik terhadap kebijakan top-down, peran gender dalam program kerelawanan, hingga penggunaan teknologi digital dalam praktik kesehatan sehari-hari.

Panel yang dipandu oleh Dr. Irwan M. Hidayana ini menampilkan pemikiran kritis dari hasil penelitian mengenai penanganan stunting yang diklaim pemerintah bisa diatasi dengan penggunaan teknologi digital. Panel yang diajukan, berharap dapat mengajak hadirin untuk berefleksi terkait pembangunan Indonesia yang memprioritaskan stunting dengan tema yang diangkat ICOC tahun ini, “Indonesia Now: 8- Years of Independence.” 

Presentasi pertama oleh Dr. Aulia D. Nastiti Aulia Nastiti, berjudul “Beyond Metric: The Global Origins and Localized Appropriation of Stunting Reduction in Indonesia” mengajak audien berpikir kembali tentang bagaimana agenda kesehatan global menyebar tidak hanya tekanan dan juga penyesuaian teknis belasa. Namun lebih dari itu, stunting berhasil menjadi program prioritas pembangunan berkat apropriasi strategis yang dilakukan oleh aktor-aktor politik dan institusi lokal.

Presentasi kedua disampaikan oleh Dr. Sari Damar Ratri, dengan judul “Kader under the Health Metrics Regime in Indonesia’s Stunting Reduction Program.” Presentasi ini menyampaikan tentang peran-peran kader di dalam intervensi stunting yang bekerja menjembatani antara program negara dan keluarga Indonesia. Dalam menjalankan tugas kader sebagai pemberi contoh tentang cara menjadi orang tua yang baik, kader juga dibebani dengan tugas melakukan pengukuran dan pencatatan hasil penimbangan berat badan anak. Keseluruhan tugas mereka dijalankan disaat upah yang dibayarkan negara kepada mereka minimal dan hampir tidak ada.

Presentasi ketiga oleh Dr. Hestu Prahara berjudul “Visualizing the Affective Dimensions of Stunting Data Digitalization in Indonesia” menyajikan sebuah analisa studi visual berbasis pengalaman pembuatan film etnografi mengenai proyek stunting. Pembuatan film, dinilai memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menangkap ekspresi lelah dan frustasi para aktor yang terlibat dalam menghasilkan data statistik kesehatan. Hal ini merupakan aspek yang jarang tampak ketika ilmuwan, pengambil kebijakan, dan pemerintah dalam membicarakan data statistik yang merupakan dasar dari perancangan sebuah program intervensi seperti stunting.

Presentasi terakhir oleh Dr. Diana Pakasi berjudul “Digital Health Mundane Practices: An Ethnographic Study of Care through Technology for Stunting Reduction in Indonesia.” Di dalamnya presentasi ini mengangkat bagaimana keseharian diteorikan secara serius. Hasilnya, banyak kerja-kerja dalam proses digitalisasi program stunting yang dianggap tak terlihat. Dengan pendekatan etika, presentasi ini juga menceritakan bagaimana stunting program memberi beban yang tidak seimbang kepada kader dengan mendorong perasaan bertanggung jawab lebih pada program negara.

Pembahasan ini merupakan bagian dari program SINTESIS (Studi tentang Inklusivitas Teknologi dan Pemberdayaan dalam Intervensi Stunting). Program penelitian dan advokasi ini merupakan kolaborasi antara Puska GenSeks, LPPSP, FISIP UI, Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), dan Monash University, dengan dukungan hibah KONEKSI. Penelitian ini difokuskan di tiga wilayah, yakni Kota Padang, Semarang, dan Kabupaten Manggarai.


Melalui sinergi dengan mitra lokal seperti LP2M, PKBI Jawa Tengah, dan Anak Waso Community, proyek SINTESIS berharap dapat mendorong kebijakan kesehatan yang lebih inklusif dan peka terhadap realitas lokal. Upaya ini menjadi kado reflektif bagi perjalanan 80 tahun kemerdekaan Indonesia dalam membangun generasi masa depan yang lebih sehat.