KAMPANYE DAN ADVOKASI

Melawan Lewat Seni

THE CONTEXTUALIZED INTERSECTIONALITY

Pengaruh seni yang dianggap mampu melawan stigma di dalam masyarakat, juga membuka tabir bahwa seni mampu menciptakan ‘intersionalitas yang dikontekstualisasikan’,  yang mengakui banyak dari pengaruh individu meliputi ras, gender, dan kelas, mampu mengisi ruang perlawanan yang bersifat universal.  

One picture is worth a thousand words

SENI

MAMPU MENGGAMBAR
KAN KEKERASAN

Bangkitnya gerakan feminis pada tahun 1970-an mengakibatkan banyak karya seni dipolitisasi.  Maka, sejumlah perempuan pada abad ke-20 memilih untuk menggambarkan kekerasan terhadap perempuan dengan cara yang mereka anggap mampu dirasakan semua kalangan, melalui karya yang dapat divisualisasikan. 

Siluet

SEBAGAI ALAT PERLAWANAN

Seniman perempun Afrika-Amerika, Kala Walker, melawan stigma terhadap pandangan masyarakat tentang tubuh perempuan kulit hitam yang dianggap sebagai subjek fantasi seksual. Ia melukiskan perlawanannya melalui siluet-siluet yang ia tuangkan ke dalam lukisan. Ia merasa bahwa siluetnya mampu menumbuhkan kekuatan bagi para perempuan kulit hitam. 

Seni

adalah keberpihakan

Seni juga menjadi pendekatan visual yang dianggap mampu menarasikan perumpamaan, membangun empati, memahami kondisi sosial dan budaya, serta membangun keberpihakan kepada para penyintas dan korban kekerasan terhadap perempuan.