HOMSEA: Peran Vital Kader Kesehatan dalam Program Penurunan Stunting di Indonesia: Antara Pengabdian dan Tantangan Digital

YOGYAKARTA – Pada 24–27 Juni 2025. Dalam konferensi internasional 10th International Conference on the History of Medicine in Southeast Asia (HOMSEA 2025), peneliti dari Unit Kajian Gender dan Seksualitas LPPSP FISIP UI menyoroti peran krusial kader kesehatan dalam upaya nasional menurunkan angka stunting di Indonesia. 


Penelitian bertajuk “Kader under the Health Metrics Regime” ini memaparkan bagaimana para relawan perempuan menjadi tulang punggung keberhasilan program kesehatan di tingkat akar rumput. Sejarah Panjang Keterlibatan Perempuan Penelitian yang dilakukan oleh Sari D. Ratri dan Marini Purnamasari, S.Sos ., ini mengungkapkan bahwa keterlibatan perempuan sebagai agen kesehatan memiliki akar sejarah yang kuat sejak masa kemerdekaan. 


Mulai dari ideologi ” State Ibuism” hingga pembentukan PKK dan Posyandu pada era Orde Baru, perempuan telah lama ditempatkan sebagai penjaga kesejahteraan keluarga dan garda depan pelayanan kesehatan masyarakat. Tantangan di Berbagai Wilayah.


Melalui riset etnografi di tiga wilayah berbeda, studi ini menunjukkan keragaman tantangan yang dihadapi para kader: 

  • Padang (Sumatra Barat): Kader berfokus pada pendekatan intensif melalui Pos Gizi dan pemberian makanan tambahan untuk mengatasi kurang gizi di kawasan perkotaan. 
  • Semarang (Jawa Tengah): Kader mulai beradaptasi dengan teknologi digital dan WhatsApp untuk pelaporan, sembari mengelola program inovatif seperti kebun gizi rumah tangga. 
  • Manggarai (Nusa Tenggara Timur): Di wilayah pedesaan dengan infrastruktur terbatas, kader harus menempuh medan berat dan menghadapi kendala sinyal internet untuk mengunggah data pada aplikasi kesehatan yang diwajibkan. 


Saat ini, pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan “Konvergensi Stunting” yang sangat mengandalkan data digital melalui aplikasi seperti e-PPGBM dan Elsimil. Hal ini mengubah peran kader dari sekadar pemberi asuhan menjadi penghasil data dalam rezim metrik kesehatan. Meskipun sering kali mendapatkan insentif yang minim, para kader menunjukkan dedikasi luar biasa. Bagi mereka, pekerjaan ini bukan sekadar tugas negara, melainkan bentuk pengabdian moral dan ibadah (amal) demi masa depan anak-anak di komunitas mereka. 


Studi ini menyimpulkan bahwa meskipun program penurunan stunting sangat bergantung pada tenaga kerja perempuan, dukungan struktural dan teknis bagi para kader masih perlu ditingkatkan. Mereka bukan sekadar relawan, melainkan “arsip hidup” dari sejarah pembangunan Indonesia yang menyeimbangkan tuntutan teknokrasi dengan kepedulian sosial yang tulus. Penelitian ini merupakan bagian dari program SINTESIS: Studi tentang Inklusivitas Teknologi dan Pemberdayaan dalam Intervensi Stunting, sebuah kolaborasi antara Unit Kajian Gender dan Seksualitas LPPSP FISIP UI, Yayasan Kesehatan Perempuan, dan Monash University dengan dukungan hibah penelitian KONEKSI. Program ini dilaksanakan di beberapa wilayah di Indonesia, yaitu Kota Padang, Kota Semarang, dan Kabupaten Manggarai, dengan melibatkan berbagai mitra lokal untuk memperkuat kajian kritis tentang intervensi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.

Dokumentasi Acara