Depok, 21 Maret 2025 — “Cerita SINTESIS #2” ini menyoroti hasil studi lapangan mengenai upaya penanganan stunting di Kota Padang, dengan Reni Kartikawati sebagai salah satu peneliti dari tim SINTESIS.
Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa meskipun prevalensi stunting di wilayah tersebut masih tergolong tinggi, pemerintah daerah sebenarnya telah menjalankan berbagai intervensi yang cukup komprehensif. Salah satu upaya utama adalah pelaksanaan aksi konvergensi, yang menggabungkan intervensi spesifik di bidang kesehatan dan gizi dengan intervensi sensitif seperti penyediaan air bersih dan sanitasi. Selain itu, langkah digitalisasi juga telah diadopsi melalui pemanfaatan berbagai aplikasi seperti ELSIMIL, e-PPGBM, serta aplikasi lokal Ayo Ceting yang digunakan untuk memantau kondisi kesehatan masyarakat secara lebih sistematis.
Reni menekankan bahwa tingginya angka stunting tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan kesehatan semata, melainkan sebagai isu kompleks yang berkaitan erat dengan faktor struktural dan sosial. Kemiskinan menjadi salah satu penyebab utama, karena membatasi kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi yang memadai. Di sisi lain, aspek edukasi dan perilaku juga menjadi tantangan, terutama dalam mengubah pola pengasuhan dan pemahaman masyarakat terkait pentingnya nutrisi. Lebih jauh, ia menyoroti masih terbatasnya keterlibatan laki-laki, khususnya ayah, dalam pengasuhan anak sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting. Persoalan ini berkaitan dengan konstruksi peran gender yang belum sepenuhnya mendukung pembagian tanggung jawab secara setara. Selain itu, kurangnya perhatian terhadap isu inklusivitas—seperti keterlibatan kelompok rentan, perspektif gender, dan disabilitas dalam perumusan kebijakan—turut memperlemah efektivitas intervensi yang ada.
Teknologi digital dipandang sebagai alat yang penting, terutama dalam membantu proses pendataan, pelacakan, dan pemantauan kasus stunting agar intervensi dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran. Akan tetapi, penelitian ini juga menegaskan bahwa teknologi tidak dapat berdiri sendiri sebagai solusi. Keberhasilan program sangat bergantung pada sejauh mana intervensi tersebut mampu mempertimbangkan konteks sosial dan budaya masyarakat, termasuk norma, nilai, serta praktik pengasuhan yang berkembang. Tanpa pendekatan yang sensitif terhadap faktor-faktor tersebut, penggunaan teknologi berisiko tidak memberikan dampak yang optimal, khususnya bagi kelompok-kelompok yang selama ini berada di posisi marginal.
Secara keseluruhan, cerita ini menegaskan bahwa penurunan angka stunting memerlukan pendekatan yang lebih holistik dan inklusif, yang tidak hanya berfokus pada aspek teknis atau digital semata, tetapi juga menyasar akar permasalahan sosial, ekonomi, dan budaya yang melingkupinya.