Refleksi oleh Vilona Stevanny, S.sos. (Etnografer BERDIKARI, Puska GenSeks & Dala Institute)

Hari Anak sering mengingatkan kita pada bayangan masa kecil sebagai ruang untuk bermain, belajar, dan bertumbuh. Namun selama beberapa bulan terakhir melakukan penelitian etnografi dalam penelitian BERDIKARI di kampung halaman saya sendiri—yang juga merupakan wilayah 3T—saya terus diingatkan bahwa bagi sebagian anak, masa kecil juga berarti belajar beradaptasi dengan keadaan yang tidak pernah mereka pilih. Saya masih teringat seorang murid kelas 4 yang usianya sudah menginjak 13 tahun—usia yang, dalam lintasan sekolah yang “umum”, biasanya sudah duduk di bangku kelas 6 SD atau bahkan 1 SMP. Selama masa sekolah dasarnya, ia sudah beberapa kali berpindah sekolah mengikuti perpindahan orang tuanya yang terus mencari penghidupan yang lebih layak di pulau-pulau kecil di Kepulauan Sangihe. Di sekolah tempat ia belajar sekarang, kisah ‘keterlambatan studi’ ini muncul sebagai persoalan rumitnya perpindahan data administrasi yang kini semakin bergantung pada sistem digital, sementara infrastruktur di wilayah 3T belum selalu mampu mengikutinya. Namun ketika mendengar langsung cerita ini di lapangan, pikiran saya justru terarah ke hal-hal lain yang tidak muncul di permukaan: teman-teman yang harus ditinggalkan, ruang kelas yang terus berganti, guru yang berbeda, cara belajar yang berubah, serta usahanya untuk kembali merasa “menjadi bagian” setiap kali tiba di tempat baru. Rasanya sulit membayangkan bagaimana semua itu dijalani di usia yang masih begitu muda. Bagi saya, Hari Anak menjadi pengingat bahwa selama masih ada anak-anak yang harus terus menyesuaikan diri dengan berbagai konsekuensi dari ketimpangan yang jauh lebih besar daripada diri mereka sendiri, angan-angan kita tentang pendidikan yang merata barangkali masih jauh dari kata terwujud.